Nama Anggota Kelompok 1
:
1)
Anggriyani Widya Pramuni (04)
2)
Eka Sekar Maulida (09)
3)
Febryan Valentino Ongkowidjojo (11)
4)
Istiqomah Nurul Azizah (13)
5)
Mochammad Zidqi Daffa (15)
Kelas : IX.2SMP NEGERI 1 SLAWI
Tugas Kelompok Menyusun
Teks Tanggapan Kritis.
Pemberian
Gelar Pahlawan Nasional pada
Bapak
Pembangunan Indonesia
|
No.
|
Struktur Teks
|
Teks
|
|
1.
|
Evaluasi
|
Akhir-akhir ini,
publik Indonesia disuguhi wacana pengangkatan Presiden Kedua Indonesia,
Soeharto, sebagai pahlawan nasional. Dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa
(Munaslub) yang digelar beberapa waktu lalu, Partai Golkar merekomendasikan
agar pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Namun,
pada Oktober 2016 kemarin, Hartono, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial dan
Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial, memberikan pernyataan bahwa pada
pemberian gelar pahlawan tahun ini, nama Soeharto tidak ada dalam daftar nama
yang diusulkan untuk mendapat gelar tersebut. Gelar pahlawan akan ditentukan
oleh Presiden dengan dibantu oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda
Kehormatan yang saat ini diketuai oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Hingga
kini nama Soeharto masih dalam pengendapan mengingat banyaknya pro dan kontra
yang terjadi di masyarakat.
|
|
2.
|
Deskripsi teks
|
Pihak yang mendukung bahwa
Presiden Soeharto, yang dijuluki sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, pantas
mendapatkan gelar pahlawan nasional karena jasanya terhadap pembangunan
bangsa. Mereka menganggap bahwa Presiden Soeharto, presiden yang menjabat
selama 32 tahun itu, setidak-tidaknya telah berhasil meletakkan landasan
perekonomian dan pembangunan yang
merata di seluruh pelosok negeri salah satunya adalah stabilitas perekonomian
Indonesia karena rendahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang
berdampak pada murahnya berbagai macam kebutuhan di Indonesia mulai dari
kebutuhan pangan,kebutuhan pendidikan,dan masih banyak lagi.
Presiden Soeharto juga berhasil menjadikan
Indonesia sebagai negara yang dijuluki Macan Asia. Pada zaman Soeharto pula
Indonesia berhasil melakukan swasembada beras dan menjadi penghasil beras terbesar di dunia
sehingga badan pangan dunia (FAO) mengundang presiden Soeharto ke Rhoma
Italia untuk memberikan pidatonya terkait keberhasilannya melakukan
swasembada pangan. FAO juga memberikan
penghargaan kepada Indonesia
dan Presiden Soeharto. Selain itu, pada zaman Soeharto pula martabat
Indonesia di mata dunia terangkat karena prestasi-prestasi yang dicapai Indonesia
pada masa itu.
Sebenarnya semua Presiden
Republik Indonesia pasti memiliki jasa terhadap bangsa ini, meskipun masa
kepemimpinannya diwarnai dengan berbagai kontroversi.
Sedangkan pihak-pihak
yang tidak menyetujui bahwa Presiden Soeharto tidak layak untuk diberikan
gelar pahlawan nasional karena pelanggaran HAM berat yang telah dilakukannya
selama masa orde baru. Tercatat ada sedikitnya lima belas kasus pelanggaran
HAM berat yang dilakukan selama rezim Soeharto dengan total korban mencapai
lebih dari 1.500.000 jiwa. Menjadikan Presiden Soeharto sebagai pahlwan
nasional jelas akan sangat melukai perasaan para korban. Selain itu,
menjadikan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional menunjukkan masih
adanya perlindungan terhadap pelaku pelanggaran HAM di masa lalu. Dengan
demikian, menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional justru menjadi suatu
langkah mundur bagi pemerintah dalam upaya menyelesaikan kasus pelanggaran
HAM di masa lalu.
Selain dianggap telah
melakukan pelanggaran HAM berat, Soeharto juga dianggap telah membuat
Indonesia yang pada mulanya dengan garang menyuarakan netralitas dalam perang
dingin, menjadi negara yang tunduk pada kekuasaan Amerika Serikat. Amerika
Serikat yang pada masa itu sangat membenci Soekarno karena dianggap telah menghalangi
jalannya untuk menguasai dunia, memanfaatkan Soeharto agar bisa menguasai
Indonesia dengan lebih mudah. Angkatan Darat yang merupakan mitra utama AS,
telah menjadikan peristiwa 1 Oktober 1965 sebagai dalih yang tepat untuk
menggulingkan Soekarno. Pimpinan PKI beserta ormas-ormasnya telah
dibersihkan. Pembunuhan massal itu menjadi pondasi bagi berdirinya rezim orde
baru yang disponsori oleh AS.
|
|
3.
|
Penegasan ulang
|
Dengan demikian, pemberian
gelar pahlawan nasional kepada Presiden Kedua RI ini memang perlu
dipertimbangkan. Diangkat atau tidaknya Soeharto sebagai pahlawan nasional,
tergantung bagaimana kita menerimanya. Selain melihat sisi negatifnya, kita
juga harus mempertimbangkan jasa-jasa Soeharto pada bangsa Indonesia, terutama
jasanya pada pembangunan Indonesia.
|
No comments:
Post a Comment